1122-1 Jan 2022

1122-Beautiful pairs of numbers

Pasangan angka yang serasi

We all one year older

Setahun usia bertambah

The challenging 2021 has just gone

2021 yang penuh tantangan baru berlalu

It made us tougher

Membuat kita bertambah tegar

Farewell 2021

Selamat tinggal 2021

Let Covid 19 goes with you

Bawalah Covid 19 bersamamu

May those that gone in 2021 rest in peace

Doa kita untuk saudara yang telah pergi di 2021

Welcome 2022

Selamat datang 2022

Happy New Year to us all

Selamat Tahun Baru untuk kita semua

Together we start the 2022

Bersama kita mulai 2022

With higher spirit than before

Dengan semangat yang lebih tinggi dari sebelumnya

Fill the days to come with positive and togetherness

Mengisi hari hari mendatang dengan positif dan kebersamaan

Yes, together we can,

Ya, bersama kita bisa

Make life better, happier and meaningful

Membuat hidup lebih baik, bahagia dan berarti

Let us study more

Mari kita belajar lagi

Learn more and more about Geotechnic

Belajar lagi dan lagi mendalami geoteknik

To be a better engineer by the days

Menjadi enjinir yang lebih baik lagi dari hari ke hari

God bless us all

Tuhan berkati kita semua

GTL, 220101

Celoteh di Penghujung 2021: Hebatnya Orang Finance!

Di dunia bisnis kita, umumnya (mungkin kata umumbya disini mencapai 98%!) orang yang profesinya berkecimpung langsung atau berhubungan langsung dengan duit, honornya selalu lebih besar daripada para enjinir. Sales enjinir saja gajinya lebih besar dari enjinir yang mengerti betul persoalan desain atau desain ejinir.

Itu karena supply and demand? Apa iya? Sedikitkah enjinir yang mau jadi sales? Bukankah statistik menunjukkan lulusan sekolah enjiniring justru banyak yang alih profesi jadi orang2 yang berhubungan langsung dengan duit? Jadi banker, jadi pialang, jadi agen asuransi, jadi broker minyak, dan lain lain yang sejenis. Sebaliknya enjinir yang benar benar konsentrasi dan jago di dunia desain justru lebih sedikit? Kalau saya perhatikan survey2 yang ada orang lulusan teknik sipil yang tetap berkecimpung di dunia teknik sipil paling2 hanya 30%!

Kenyataannya dalam urusan perDUITan orang-orang finance lebih jago bicara dan lebih bisa meyakinkan customer! Jualan kertas saja bisa laku tanpa barang. Ah masa ada?? Tanpa lihat barang?? Ya iya. Coba kalau beli saham, apa barangnya? Sekarang bahkan kertas sertifikat sahamnya saja gak ada! Beli asuransi? Ada barangnya? Cuma buku polis kan?! Masih kurang bukti? Bukti di bidang kita deh, teknik sipil  ada gak?? Ada!! Developer baru ada gambar sudah bisa jualan dan sudah ada yang berani beli. Baru baru ini bahkan di suatu kawasan hunian ada tanah 1000m2 baru gambar dan lahannya saja belum matang! Dijual developer dengan siatem lelang!! Tahu berapa harganya? Dari harga pembuka sekitar 15M akhirnya terjual 21M!!!

Masih kurang bukti kalau orang finance lebih jago dari pada enjinir dalam urusan perduitan?? Nih contoh lain:

Ada suatu kenyataan yang menunjukkan kehebatan orang2 finance dalam memanfaatkan celah dan hukum. Apa itu? 2008 Lehman Brothers waktu bangkrut di tahun yang sama CEO nya mendapat bonus fantastis hingga 60 juta dollar!! Bayangkan ujungnya perusahaannya bangkrut! Tapi dia bebas tak kena hukum apa apa.

AIG waktu perusahaannya hampir bangkrut kalau tidak di bail out, masih juga mendapat bonus. Yang ketika keluar di koran dikatakan itu memang hak mereka.

Coba cari dan hitung berapa banyak petinggi2 perusahaan yang bangkrut dan hampir bangkrut dipenjarakan waktu krisis subprime mortgage di US??

Hebat gak itu orang orang finance??

Satu contoh lagi, coba perhatikan kalau kita deposito di bank, banyak sekali lembar yang kita mesti tanda tangan dengan huruf kecil kecil. Siapa yang pernah baca seluruhnya secara cermat sebelum tanda tangan?? Coba baca apa isinya?? Penuh xengan klausal yang melindungi si bank!! Coba hitung berapa pasal yang melindungi nasabah dan bandingkan.

Pernah gak kita enjinir, baik sebagai konsultan dan kontraktor menyodorkan surat perjanjian ke owner yang isinya melindungi kita lebih banyak? Yang ada kita yang disodori kontrak ber-lembar lembar oleh owner. Coba perhatikan pasal dendanya? Apa seimbang penalti2nya??

Contoh lain lagi, kalau beli property, perjanjian juga ber lembar-lembar disodorkan developer. Penalti kalau telat bayar? Penalti berjalan terus tanpa batas! Kalau telat tak kunjung bayar selama setahun misalnya? ya, bisa disita. Kalau developer yang telat serah terima?? Denda ada maksimalnya!! Berapa? Paling cuma 5%. Setelah 5% penaltinya belum selesai bagaimana?? Gak ada kelanjutannya kan!! Bisa kita minta ubah??

Apa lesson learned nya??

Menurut saya enjinir tidak cukup hanya jago di bidang ilmu teknik yang dia geluti, tetapi harus:

  1. Belajar ilmu menjual! Ilmu how to sell yourself! Disini belajar teknik bicara, belajar psikologi meyakinkan calon pemakai jasa kita. Belajar bicara melalui ilustrasi dan nilai nilai ekonomi yang bisa dihasilkan atas jasanya. Nah disini artinya juga harus belajar ilmu ekonomi Jangan menghitung present value, future value dan Break even point saja gak ngerti misalnya. Jangan sampai juga gak ngerti position selling!!
  • Baca buku self improvement! Umumnya enjinir merasa pintar dan enggan baca buku-buku self improvement karena merasa buang waktu percuma.
  • Belajar mengerti hukum hukum apa? Yang pertama tentunya hukum dunia konstruksi. Kedua tentunya bagaimana melindungi diri kita supaya tak terperangkap hukum dalam kata kata di kontrak kerja kita.
  • Belajar kompak Jangan mau diadu-adu dengan harga yang ditekan rendah! Jangan selalu pakai alasan, kalau kita gak mau orang lain mau pak. Kan kita juga perlu makan? Masa begitu? Kalau buat makan saja mah gak susah. Kalau perlu jualan bakmi atau jualan gado gado juga pasti bisa makan!!!

Demikian sekedar pendapat pribadi yang digali berdasarkan pengalaman pribadi juga.

2021 tersisa kurang dari 52 jam!

2022 segera datang.

Saatnya melakukan retrospeksi.

Melihat ke belakang, ke 363 hari sebelumnya, apa yang telah kita perbuat?

Seberapa banyak self improvement kita, baik dari segi pengetahuan dan keahlian kita masing-masing, hingga ke segi ekonomi kita dan keluarga, juga seberapa banyak kontribusi kita kepada keluarga besar dan masyarakat profesi kita?  Saatnya kita menilai diri sendiri, untuk kemudian membuat goal (tujuan pencapaian), rencana dan langkah langkah di 2022 yang segera datang.

Selamat Tahun Baru, kawan!!

GTL, 211229

Clay Burst Problem – Dasar Galian Jebol

Pagi ini, 6 Desember, 2022 sekitar pukul 07.15 WIB,  saya mendapat tarutan mengenai peristiwa clayburst dari sebuah WA group geoteknik internasional yang terjadi di Australia Barat.

Namun siang ini, 13:10 WIB,  tautan tersebut tidak lagi dapat diakses, kemungkinan sudah berita tersebut sudah diblok dan tidak lagi dapat diakses. Di bawah ini adalah screenshot yang sempat saya ambil saat membaca berita tersebut:

Tertulis disana bahwa lapisan lempung yang berada di atas muka air terangkat (popped) ketika dilakukan penggalian untuk lubang lift atau lift pit (elevator shaft), dan air dengan cepat memenuhi lift pit tersebut.

Dikatakan juga bahwa lokasi tersebut merupakan lokasi terendah dengan lapisan yang tipis.

Ms. Radden mengatakan bahwa area galian basement masih banjir, dan pohon-pohon di sekitar menjadi mati.

Juga diberitakan usaha-usaha untuk men-stop aliran air tersebut telah gagal. Termasuk usaha dengan menjatuhkan karung-karung lempung, dan usaha terakhir dengan melakukan memompakan bahan grouting juga gagal.
Diskusi geoteknik lengkap dapat dibaca dengan klik tautan ini: http://indogeotek.com/wp-content/uploads/2021/12/Geo-211206-Clay-Burst.pdf

Apakah Ring of Fire di bawah Bersambung?

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah memang nyambung di dalam bumi.

Kenapa ada ring of fire, karena di bawah di lapisan inti bumi yang kita tahu berbentuk bulat itu ada magma yang selalu bergerak berputar, ibarat “dua roda” yang saling berputar berlawanan arah (disebut konveksi). Dan itu terjadi di tengah samudra Pacific. Akibat dari pergerakan “dua roda”  magma berlawanan arah itu plat bumi di dasar laut “pecah” dan terdorong ke kanan kiri (disebut proses divergen) , magma nya keluar dan mengisi plat yang retak, perlahan magma ini mendingin lalu menjadi bagian dari plat laut. Proses ini terjadi secara perlahan lahan namun terjadi terus menerus. Akibatnya pelat bumi dasar laut di tengah Pacific bergeser dan bertabrakan dengan pelat bumi benua. Tabrakan itu menimbulkan geseran, di tempat pertemuan itu plat bumi laut yang lebih berat akan tenggelam kembali ke dalam bumi dan akhirnya mencair kembali menjadi magma.

Di tempat pertemuan itu plat benua dan plat laut saling bergeser, menimbulkan gaya gesek yang luar biasa besar dan terjadi “penimbunan” energi. Jika gesekan ini tidak tertahan maka tiba-tiba akan terjadi pelepasan energi dan timbullah gempa. Plat bumi yang didesak dari bawah di beberapa tempat akan melengkung naik dan dapat timbul retakan. Di jalur retakan ini magma naik dan jadilah gunung api.

Maka dari itu terbentuklah ring of fire yaitu titik-titik funung api dan gempa.

Proses divergensi dasar laut seperti di dasar Samudra Pacific ini tidak terjadi di Samudra Atlantik. Karena itu di benua Amerika Timur dan Eropa tidak ada ring of fire.

Begitu kira kira penjelasan bahasa awamnya.

GTL, 211206

Sumur Resapan dan Sarang Nyamuk

Tulisan mengenai efektif tidak nya sumur resapan sudah saya tulis 7 dan 13 November lalu, yang mana kalau tujuannya adalah untuk mengurangi banjir di Jakarta, maka TIDAK EFEKFIF karena tanah di Jakarta merupakan tanah lempung yang berkemampuan mengalirkan air sangat rendah dan muka air tanah relatif dekat dengan permukaan. Sekalipun dibuatkan sumur hingga ketemu lapisan pasir tetap tidak akan efektif karena tanah pasir di bawah sudah jenuh air. Sesuatu yang sudah jenuh air tentunya tidak dapat lagi menerima air (ibarat bak yang sudah penuh tentunya tak dapat lagi menerima air tambahan).  Kecuali jika air tanah di dalam lapisan pasir tersebut mengalir, atau dengan kata lain ada aliran air bawah tanah. Dan ini tidak akan terjadi di wilayah Jakarta yang merupakan tanah datar.

Kali ini saya ingin mengulas tentang apakah sumur resapan itu akan menjadi sarang nyamuk? Tulisan ini saya buat karena berapa hari ini ramai beredar tulisan di Sosmed yang mengatakan sumur resapan bakal jadi sarang nyamuk. Tulisan tersebut mengatas-namakan dokter-dokter dari sebuah universitas ternama. Benarkah demikian?
Klik tautan ini untuk artikel lengkapnya: http://indogeotek.com/wp-content/uploads/2021/12/Geo-211206-Sumur-Resapan-dan-Sarang-Nyamuk.pdf

Analisa Geoteknik lebih baik orang lulusan S2?

Orang belajar geoteknik tidak harus melalui pendidikan formal. Tidak harus lulus S2 dan S3. Bahkan tidak harus lulus S1 Sipil. Mau contoh? Ada seorang sepuh pendiri HATTI bernama Ir. Benny Kumara, beliau lulusan Fisika Bangunan ITB, ahli akustik. Lama menjadi dosen Fisika Bangunan di Universitas Tarumanagara. Beliau belajar Geoteknik sendiri (otodidak) dan berhasil. Beliau adalah pemilik PT. Sofoco, satu perusahaan penyelidikan tanah yang cukup terkenal di Indonesia dannsudah beroperasi sejak 1965an.

Pengalaman saya pribadi mengajarkan bahwa dalam belajar, yang paling penting adalah syarat berikut:

1. Punya tujuan (mau belajar apa dan untuk apa)

2. Menentukan arah dan jalan yang akan ditempuh (berjalan tanpa arah bisa tersesat)

3. Kemauan keras untuk terus belajar.

4. Tidak mudah menyerah.

5. Membuka mata dan telinga.

6. Bersikap kritis untuk memeriksa diri apakah kita memang sudah benar mengerti.

7. Tak malu bertanya.

8. Bersikap mencari, menggali dan bukan menunggu.

9. Jangan cepat membantah dan mengatakan: “Ah itu mah gua sudah tahu!” Kata kata itu akan membutakan mata kita sendiri.

10. Invest waktu dan uang!!

11. Melawan kemalasan diri sendiri!!

Intinya harus selalu belajar mendidik diri sendiri. Lalu dari mana kita belajar di luar pendidikan formal? Belajar bisa dari:

1. Membaca buku text

2. Membaca makalah

3. Seminar

4. Webinar

5. Pelatihan

6. Proyek (mengamati/menganalisa)

7. Sesama teman, atasan, mandor, dan bahkan tukang.

8. Mencari mentor yang berpengalaman.

9. Sekarang bisa dari Youtube!!

Tentunya perlu modal, apa modalnya?? Ya, itu syarat no 10. Modal waktu dan uang!!

Sekalipun belajar dari youtube kan perlu modal waktu dan modal duit untuk beli pulsa!!

Jangan pelit dalam invest beli buku dan ikut pelatihan! Itu bukan hemat rapi pelit!!! Pelit itu menghambat kemajuan.

Sharing saja:

Saya bisa mencapai level pengertian yang yah…yang kata orang namanya ahli geoteknik (ups…. masih banyak yang perlu dan mau saya pelajari) itu juga sudah invest sejak 1982. Invest waktu, invest duit beli buku, ikut konprensi nasional dan internasional.

Sejak 1982 saya menerapkan prinsip, saya pakai ilmu untuk cari uang. Sebagian uang itu saya kembalikan ke otak saya, artinya: diinvestkan untuk beli buku, ikut pelatihan, seminar dan konprensi (dulu tak ada webinar). Jadi singkatnya ilmu saya harus menaikkan penghasilan saya. Lalu sebagian duit saya harus saya investkan kembali ke otak saya untuk menaikkan ilmu saya. Dan itu saya jalankan sampai hari ini sejak 1982.

Demikian sekedar sharing di siang hari ini.

Salam geoteknik,

GTL, 211213

Duka Pengawas Jujur

engalaman seseorang saat jadi pengawas:

1. Diajak makan.

2. Dipuji anak buah bagus tapi tolonglah bantu bantu.

3. Kami tahu honor bapak kecil nanti kami tambah.

Ha ha ha…. Biar merem maksudnya. Eh…bagaimana kalau gak mau merem?

Yah, Akhirnya Dimusuhi dan disingkirkan….

Kalau gak gitu? Anak buah yang disogok atau dikasih kerjaan dan dibayar extra di lapangan oleh yang diawasi. Jadi dapat gaji kanan kiri tuh anak buah kurang ajar.

Sedikit lebih halus?? Anak buah direkruit sama yang diawasi. Atau bahkan sama owner.

End of the story?

GAK MAU Ah JADI PENGAWAS 😄

GTL, 211208

Sedikit Kenangan bersama Prof. Lee

Barangkali generasi millennial sudah tidak kenal lagi siapa Prof. Lee Seng-Lip. Akhir 1980an – awal 2000an beliau merupakan salah satu professor yang malang-melintang, terutama terkenal di Taiwan, Hong Kong, Thailand, Singapore dan Indonesia.
Saya pertama bertemu beliau sekitar akhir 1987 di AIT (Asian Institute Technology), Bangkok, Thailand, sewaktu saya mengambil S2 geoteknik disana. Beliau adalah ahli struktur yang sekaligus saat itu juga dikenal sebagai orang yang banyak berkecimpung di dunia geoteknik. Sewaktu muda sempat kuliah di ITB dan bertermu Prof. Roseno disana. Lalu mereka pindah ke Mapua Institute of Technology, Philipina, lalu ke MIT (Massachusetts Institute of Technology) di Amerika. Sempat mengajar di NorthWestern University, dan dalam 4 tahun mendapat pengakuan sebagai full Professor.  Kabarnya sempat menikah di USA, namun kemudian pisah saat beliau kembali ke Asia dan mengajar di AIT, Bangkok tahun 1969. Mereka berpisah karena sang istri kabarnya tidak betah tinggal di Asia.  Kemudian beliau direkruit oleh NUS (National University of Singapore), untuk membantu membesarkan NUS. Di jurusan Teknik Sipil NUS lalu beliau mencapai puncak kesuksesannya dan dapat dikatakan menjadi “dewa”nya jusuran Sipil NUS. Semua tunduk, hormat, “takut’ pada beliau. Dikatakan dosen-dosen disana, beliau adalah bapak bagi kami semua. Jadi kata dosen-dosen disana kalau ditegur atau dimarahi beliau, ya anggap saja dimarahi orang tua sendiri. Prof. Lee pernah cerita ke saya bahwa beliau adalah orang Bogor, lahir di Bogor.
Semenjak pindah ke Asia, dan setelah ibunya meninggal dunia, beliau hanya hidup sendiri. Memilih untuk tidak menikah lagi. Karena hidup sendiri beliau tidak membeli rumah/apartemen. Sejak lama, sudah bertahun-tahun memilih menyewa satu kamar terus menerus di Goodwood Hotel.
Salah satu jejak beliau di Jakarta, Indonesia, adalah desain Gedung Dharmala di jalan Jendral Sudirman dimana beliau menjadi advisor struktur bangunan tersebut. Juga proyek reklamasi Pantai Mutiara yang berlangsung akhir tahun 1987an dan awal 1990an.
Tahun 1986-1987 proyek Pantai Mutiara di Jakarta utara itu masih dalam konsep desain. Saat itu saya bekerja untuk PT. Soletanche Bachy Indonesia (SBI), dimana bos saya waktu itu orang Prancis, Mr. J.M Debats, MSc., yang merupakan mentor geoteknik saya yang pertama dalam dunia praktek, mengusulkan pemakaian vertical drain (merek Desol buatan Prancis). Namun saat itu pemakaian vertical drain belum banyak, dan sepanjang pengetahuan saya baru diaplikasikan di kilang minyak Pertamina, Balikpapan, untuk perbaikan tanah pondasi tanki o9 dan o11 dimana saya terlibat sebagai site engineer (tahun 1985-1986) dan baru belajar sebagai desain engineer di bawah mentor kedua saya yang juga orang Prancis Bernama Michel Gambin. Mr. Debats dan Mr. Gambin merupakan orang-orang geoteknik yang sangat pandai dimana saya beruntung dapat menjadi bawahan mereka yang dipercaya untuk memegang pelaksanaan membantu, dan dilatih untuk desain proyek-proyek ground improvement dari vertical drain, dynamic compaction, grouting, micropile hingga dinding diaphragma (di Kedung Ombo). Di proyek Pantai Mutiara ini saya beberapa kali diajak Mr. Debats untuk bertemu dengan team dari Pantai Mutiara. Karena sangat sulit meyakinkan, saat itu Mr. Debats mengusulkan PT SBI melakukan trial area 100 m x 100 m tanpa biaya, tetapi beliau berkeras ada kontrak dulu yang menjamin kalau trial berhasil, maka selanjutnya perbaikan tanah diserahkan ke PT SBI. Syarat ini ditolak oleh tim proyek, sehingga PT SBI tidak mendapatkan proyek perbaikan tanah tersebut.
Di saat itu masuk Prof. Lee, kabarnya melalui big bos group pemilik proyek. Prof. Lee mengusulkan hal yang sama memakai vertical drain dengan digabungkan dengan cerucuk bambu di tepi-tepi area reklamasi dan murni vertical drain di area dalam reklamasi. Cerucuk bamboo yang diusulkan merupakan lima cluster bamboo yang diikat jadi satu dan di tengahnya dipasangi vertikal drain. Usulan Prof. Lee menjadi menarik pihak owner, karena vertical drain yang diusulkan oleh beliau sangat inovatif! Prof. Lee mengusulkan membuat vertical drain dari sabut kelapa. Vertikal drain dari sabut kelapa ini kemudian dikenal dengan nama Jute drain. Mengapa menarik? Karena besan dari owner proyek mempunyai pabrik karung goni, dan bahan baku sabut kelapa serta pabrik relatif sudah ada di Indonesia. Jadi dibuatlah jute drain dan diaplikasikan di proyek Pantai Mutiara itu. (Tentu saja usulan PT SBI dengan vertical drain buatan Prancis tidak dapat bersaing).
Kemudian tahun 1991,  di konprensi HATTI (Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia) yang saya kebetulan dipercaya sebagai sekretaris HATTI dan ketua panitia penyelenggara seminar 1991 oleh senior-senior HATTI saat itu (pak Soekrisno Rammelan, pak Azis Jayaputra, pak Benny Kumara dan pak Jonas Andri), Prof. Lee sebagai salah satu pembicara saat itu sempat mendapat pertanyaan: “Apakah vertical drain dari bahan sabut kelapa itu dapat berfungsi lama dan dapat seefektif vertical drain dari luar negeri yang terbuat dari bahan polimer (saat itu Istilah geosintetik belum dikenal luas) ?” Jawaban beliau sungguh diluar dugaan dan membuat hanpir semua peserta tertawa terbahak. Mau tahu apa jawabannya? Berikut jawaban beliau:
“Buat apa anda punya panjang (maksudnya alat vital), kalau panjang tapi tak bisa memuaskan wanita? Sementara yang saya pendek tapi mampu memuaskan wanita!!!”
Itu jawabannya, dan terbahaklah para peserta. 😂
Selamat jalan Prof. Lee. RIP.

Gouw, 28 Nov, 2021

Permeabilitas dan Efektifitas Sumur Resapan

Di musim penghujan yang sudah dimulai ini, ramai pembicaraan di sosmed tentang efektifitas sumur resapan dalam “mengembalikan air ke bumi”, sampai-sampai di beberapa sosmed timbul “perdebatan” yang cukup hangat.

Agar menjadi lebih jelas secara teknis saya ingin menyambung tulisan saya 7 November 2021 lalu yang berjudul “Efektifkah Kolam Modular untuk Mengurangi / Mengatasi Genangan dan Banjir??” dengan tulisan singkat di bawah ini.

Kemampuan tanah dalam menerima air kembali ke bumi sangat tergantung kepada dua hal utama, yaitu:

  1. Permeabilitas, yaitu kemampuan tanah dalam menyerap dan mengalirkan sejumlah air dalam satuan waktu tertentu.
  2. Tingkat Kejenuhan, yaitu berapa persen pori-pori tanah yang sudah terisi air.

Berapa Nilai Permeabilitas?

Permeabilitas dalam ilmu geoteknik diberi simbol k, besarnya sangat bervariasi. Berikut adalah nilai tipikal berdasarkan jenis tanah:

  • Tanah pasir, memiliki permeabilitas sebesar 1 x 10-5 m/detik hingga 1 x 10-3 m/detik, ini berarti tanah pasir berkemampuan mengalirkan air dengan jarak 86.4 cm/hari hingga 86.4 m/hari.
  • Tanah lempung, memiliki permeabilitas sebesar lebih kurang 1 x 10-9 m/detik , yang berarti tanah lempung berkemampuan mengalirkan air dengan jarak hanya 31.5 mm/tahun!!
  • Tanah lempung berlanau dapat memiliki permeabilitas sebesar lebih kurang 1 x 10-7 m/detik, atau setara dengan kemampuan mengalirkan air sebesar 26 cm per bulan atau setara 3.15 m per tahun.

Berapa Nilai Tingkat Kejenuhan?

Tingkat kejenuhan dalam ilmu geoteknik diberi symbol Sr. Besaran-nya sebagai berikut:

  • Tanah kering, tingkat kejenuhannya adalah NOL, artinya pori-pori tanah masih kosong dan belum terisi air.
  • Tanah yang sudah lama berada di bawah permukaan air tanah, tingkat kejenuhannya adalah 100%, berarti pori-pori tanah sudah penuh air, dan tidak dapat lagi menerima air.
  • Tanah jenuh sebagian, artinya masih ada ruang di pori-pori tanah untuk menerima air.


Efektifitas Sumur Resapan

Jadi efektifitas sumur resapan tergantung jenis tanah dasar dan tingkat kejenuhan tanah dasar dimana sumur resapan tersebut dibuat.

Jika jenis tanah di area sumur resapan merupakan tanah lempung dan tanah lempung berlanau, maka kecepatan air merembas sangatlah lambat (lihat angka permeabilitas di atas). Apalagi jika muka air tanah sudah dekat dengan permukaan tanah, misalnya hanya sekitar 1-2 m dari permukaan tanah, maka tanah di bawah itu sudah jenuh air dan tak lagi dapat menerima air. Jadi dalam kondisi ini sumur resapan dapat dipastikan sangat-sangat rendah efektifitasnya.

Bagaimana jika jenis tanah dasar merupakan tanah pasiran? Tentunya akan jauh lebih efektif. Namun perlu diingat jika tanah pasir tersebut sudah jenuh air (terletak di bawah muka air tanah), maka tanah pasir tersebut juga sudah tidak dapat menerima air. Artinya ya juga tidak efektif.

Sayang sekali pada umumnya tanah di Jakarta antara permukaan tanah hingga ketebalan 10-20m di bawah adalah berupa tanah lempung berlanau atau tanah lempung dan muka air tanah relatif dekat dengan permukaan tanah, dan tanah yang dekat dengan permukaan pada umumnya juga sudah jenuh sebagian (artinya sebagian pori-pori tanah sudah terisi air).

Bagaimana supaya efektif? Nah ini ada faktor lain, yaitu yang disebut HEAD di dalam ilmu geoteknik. Supaya air dapat mengalir diperlukan selisih HEAD. Nah kalau sumur resapan mau efektif, selisih HEAD harus besar. Awamnya, selisih level air dalam sumur resapan terhadap level muka air tanah harus lumayan besar. Nah kalau muka air tanah hanya 1.0m hingga 2.0m dari muka tanah ya tidak cukup besar!! Bagaimana supaya cukup besar? Jalannya adalah memberi tekanan pada air di sumur resapan dan ini tentunya tidak bisa dilaksanakan secara sistem gravitasi saja seperti yang ada sekarang. Dan secara praktis tidak mungkin juga memberi tekanan pada semua sumur resapan, karena akan diperlukan pompa tekan pada setiap sumur yang tentunya akan memakan biaya yang sangat tinggi.

Jadi apakah sumur resapan tidak berguna? Oh tidak, gunanya jelas ada, yaitu untuk menjaga agar muka air tanah tidak turun. Kalau setiap rumah membangun sumur respan jelas ada baiknya dalam menjaga level muka air tanah agar stabil. Karena kalau muka air tanah turun terus akibat pemompaan misalnya, itu akan berakibat permukaan tanah turun karena kehilangan gaya angkat dari air.

Lalu apakah efektif mengatasi/mengurangi banjir??? Nah disini permasalahannya saya piker terletak di cost benefit ratio dan selanjutnya secara teknis silakan dijawab sendiri berdasarkan tulisan di atas. Mohon maaf bagi yang tidak sependapat, saya disini hanya mengemukakan secara ilmu geoteknik. Dan tidak ingin memperdebatkan permasalahan di luar ilmu geoteknik karena itu di luar kapasitas saya yang hanya merupakan orang geoteknik.

Salam geoteknik,

GTL, 211113.

Efektifkah Kolam Modular untuk Mengurangi / Mengatasi Genangan dan Banjir??

Berita 20 Oktober 2021 berbunyi:
——————————————————————————————————————-

“Dinas SDA DKI Jakarta Bangun Kolam Modular Jln.Boulevard Perumahan Green Garden, Jakbar. Tabloidkontras.com” https://tabloidkontras.com/dinas-sda-dki-jakarta-bangun-kolam-modular-jln-boulevard-perumahan-green-garden-jakbar/

Dalam berita tersebut antara lain tertulis:

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan air hujan meresap ke tanah, artinya ada sirkulasi air. “
——————————————————————————————————————-

Pelaksanaan kolam modular tersebut dimulai sekitar minggu kedua Oktober 2021. Dalam group WA di RT dan RW kompleks perumahan itu terlontar pertanyaan beberapa warga: “Apa sih yang sedang dibangun di Boulevard GG tersebut? “

Saat itu penjelasan saya adalah sebagai berikut …….

Klik disini untuk lengkapnya: